By | Juli 16, 2019

Ini pertama kalinya saya mencoba menciptakan surat keterangan catatan kepolisian. Saya membutuhkan dokumen berjulukan SKCK ini untuk proses saya menciptakan kartu keluarga gres bersama istri. Ternyata proses menciptakan SKCK itu tidak sesimpel yang saya bayangkan.

Yang Perlu Dipersiapkan
Syarat Pembuatan SKCK

Untuk mengetahui apa saja yang perlu dibawa sebelum mengurus SKCK, saya mampirin ke polsek terdekat di rumah saya di kawasan BSD ihwal persyaratannya. Seharusnya mah persyaratan SKCK di setiap kawasan sama dong yah walaupun saya harus ngurus di tempat lain.

Hal pertama yang harus dilakukan ialah meminta surat pengantar dari kelurahan. Untuk sanggup mampu pengantar kelurahan harus sanggup pengantar dari RW. Untuk sanggup mampu pengantar dari RW harus sanggup pengantar dari RT dulu. Makara harus ke Pak RT dulu, terus ke Pak RW, terus gres ke keluarahan, untuk sanggup mendapat satu lembar surat pengantar.

Hal kedua yang perlu disiapkan ialah pas foto 4×6 bewarna dengan latar belakang merah tiga lembar. Ini sebenernya tinggal nyetak ke tempat foto saja gampang. Cuma yang saya gak habis pikir kenapa harus latar belakang merah yah? Lalu kenapa gak seragam dengan KTP? KTP kan latar belakang merah atau biru bergantung dengan tahun lahir ganjil atau genap. Yasudah lah, ikutin aja apa persyaratannya.

Hal ketiga yang harus disiapkan ialah fotokopi beberapa identitas diri. Yang diminta ialah fotokopi KTP, KK, dan Akta lahir. Tidak perlu yang aslinya kok, soalnya nanti akan disimpan dan diarspikan.
Membuat SKCK di Kantor Polisi

Setelah dokumen-dokumen yang kita butuhkan di atas siap, kita kemudian sanggup eksklusif membawanya ke kantor polisi yang sesuai dengan alamat KTP kita. Saya kebetulan ngurusnya di Polsek (tingkat kecamatan). Katanya jikalau mau yang tingkat kota juga boleh. Tapi saya mikirnya klo di kecamatan niscaya lebih sepi dan memang pas saya tiba cukup sepi.
Sebenernya sekali tiba sanggup selesai urusannya tapi sayangnya saya harus dua kali ke Polsek. Di Polsek tempat saya melihat persyaratannya, dikatakan bahwa jam bukanya Senin-Jumat 08.30 s.d 15.00 (istirahat jam 12.00 – 13.00) kemudian Sabtu jam 08.30 – 12.00. Saya tiba hari Sabtu, ternyata Polseknya tutup -_- Makara terpaksa harus tiba pas hari kerja (kasian yang gak sanggup ambil izin atau harus cuti).

Pas kedua kali datang, saya eksklusif tiba ke loket bab mengurus SKCK, memasukan berkas yang diminta (di tempat ini tidak diminta foto kopi akte kelahiran), kemudian saya diminta mengisi form. Formnya isinya kayak surat pernyataan gitu ihwal identitas diri kita dan keterangan jikalau kita tidak pernah melaksanakan tindakan yang melawan hukum. Lumayan ada tiga lembar gitu isian yang harus kita lengkapi. Setelah selesai ngisi itu, saya ngembalikan form ke loket, bayar Rp. 10.000, dan eksklusif dikasih SKCK-nya. That’s it, jadi.

Sebenernya sih proses menciptakan SKCKnya gak ribet, selain harus dateng pas hari kerja yah. Tapi dokumen pendukungnya itu loh yang berdasarkan saya agak ngerepotin. Apalagi bangsa-bangsanya surat pengantar. Harusnya yang kayak gitu sanggup dibentuk sistem terintegrasi yang online dimana kita sanggup submit form online, Pak RT, Pak RW, dan Pak Lurah sanggup nge-approve via system, terus klo udah diapprove semuanya, kita sanggup eksklusif ngeprint dokumennya atau klo gak tinggal ambil di Lurah, atau jikalau lebih canggih lagi sanggup eksklusif difollow up ke sistemnya kepolisian. Di kantor polisi juga form yang tadi saya isi sanggup aja diisi online, bayar online, dan ke kantor polisi tinggal ambil SKCK-nya aja. Foto pun harusnya udah terekam semua via eKTP yang sayangnya kini sedang dibekukan.

Kesimpulannya untuk mengurus SKCK adalah:

– waktu mengurus: paling cepat 1 hari kerja, jikalau sanggup dapet surat pengantar dan ke polsek hari itu juga (less likelly sih)
– biaya mengurus: Rp. 10.000
– Kelengkapan yang perlu disiapkan:
1. Pengantar dari kelurahan
2. Foto 4×6 Berwarna, latar belakang merah, tiga buah
3. Foto kopi KTP
4. Foto kopi KK
5. Foto Kopi sertifikat kelahiran (kayaknya gak wajib, tapi siapin aja)

Semoga informasinya bermanfaat yah 🙂 Tetap semangat walaupun birokrasi di Indonesia masih super jelimet.